…lanjutan cerita:
Langit di atas Gunung Lazuardi berubah menjadi merah gelap, tanda bahwa kekuatan misterius sedang bangkit. Panglima dan rombongannya terus mendaki, meski angin dingin menerpa wajah mereka, dan tanah berbatu semakin licin. Patih sesekali berhenti, memandangi bayangan samar yang seperti bergerak di tepi penglihatannya.
“Panglima, kita sedang diawasi,” bisik Patih dengan nada tegang.
“Aku tahu,” jawab Panglima tanpa menoleh. “Tapi kita tidak punya pilihan. Kita harus terus maju. Cahaya Abadi harus ditemukan, atau semua akan sia-sia.”
Arya, yang berada beberapa langkah di depan mereka, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Di hadapan mereka, berdiri sebuah gerbang besar berukir simbol-simbol aneh yang sama dengan yang tertulis di kitab. Gerbang itu memancarkan aura yang membuat bulu kuduk berdiri.
“Ini dia,” ujar Arya dengan napas tertahan. “Kuilnya ada di dalam.”
Namun, sebelum mereka sempat mendekat, suara gemuruh terdengar. Dari balik bayangan, muncul makhluk-makhluk tinggi bertubuh gelap, dengan mata merah menyala. Mereka menggeram, seperti penjaga gerbang yang tidak akan membiarkan siapa pun masuk tanpa perlawanan.
“Pasukan, siapkan senjata!” perintah Panglima dengan lantang.
Pertempuran pun pecah. Pedang beradu, tombak berkelebat, dan teriakan bergema di tengah kegelapan. Meski para prajurit bertarung dengan gagah berani, jumlah mereka tidak sebanding dengan makhluk-makhluk itu.
Patih, dengan perisainya, melindungi Arya yang mencoba membaca kitab untuk mencari petunjuk. Di tengah kekacauan, ia melihat sebuah kalimat baru yang muncul di halaman terakhir kitab:
“Hanya hati yang bersih dan jiwa yang rela berkorban yang dapat membuka gerbang Cahaya.”
“Arya, bacalah itu dengan keras!” seru Patih.
Arya dengan cepat melafalkan kalimat itu, suaranya bergema di udara. Cahaya lembut mulai memancar dari kitab, membuat makhluk-makhluk gelap itu mundur beberapa langkah. Gerbang besar perlahan terbuka, memperlihatkan lorong panjang menuju pusat kuil.
“Kita harus masuk sekarang!” perintah Panglima.
Mereka segera berlari melewati gerbang, meninggalkan medan pertempuran di belakang mereka. Lorong itu dipenuhi ukiran-ukiran kuno yang menceritakan sejarah negeri mereka—sejarah tentang kekuatan Cahaya Abadi dan bayangan kelam yang selalu berusaha menghancurkannya.
Di ujung lorong, mereka menemukan sebuah ruang besar dengan altar yang bercahaya biru terang. Di atas altar itu, Putri Raja berdiri bersama pria misterius yang sebelumnya membawa pergi dirinya. Pria itu tampak sedang memegang tangan Putri, wajahnya penuh rasa bersalah.
“Kalian terlambat,” kata pria itu tanpa menoleh. “Cahaya Abadi sedang bangkit, tapi untuk itu, Putri harus mengorbankan sesuatu yang paling berharga.”
“Tidak! Kami di sini untuk menyelamatkan Putri, bukan mengorbankannya!” seru Arya dengan kemarahan membara.
Pria itu berbalik, menatap Arya dengan tatapan sedih. “Kau tidak mengerti, Anak Muda. Jika dia tidak melakukan ini, bayangan kelam akan menyelimuti seluruh negeri. Tidak ada yang bisa menghentikannya.”
Putri Raja, meski tampak gemetar, menatap Arya dan Panglima dengan mata yang penuh keyakinan. “Aku tahu apa yang harus kulakukan,” katanya lembut. “Jika ini memang takdirku, maka aku menerimanya.”
“Tidak, Putri!” Arya melangkah maju, matanya berkaca-kaca. “Pasti ada cara lain. Kita bisa mencari solusi lain bersama!”
Namun, sebelum Arya sempat mendekat, Putri Raja menempatkan tangannya di altar. Cahaya biru semakin terang, hampir menyilaukan. Pria misterius itu melangkah mundur, membiarkan Putri menghadapi takdirnya sendiri.
Di saat yang sama, kitab yang dibawa Panglima mulai bersinar, dan halaman terakhirnya berubah lagi. Kata-kata baru muncul:
“Pengorbanan sejati adalah cinta yang murni. Jika ada yang rela berbagi rasa sakit, kegelapan akan sirna.”
Arya membaca kalimat itu dengan gemetar, lalu berteriak, “Aku akan berbagi bebanmu, Putri! Kau tidak harus menanggung ini sendirian!”
Putri Raja menoleh, matanya melembut. “Arya, kau…”
Arya melangkah maju dan menempatkan tangannya di atas altar, tepat di samping tangan Putri. Cahaya biru berubah menjadi putih menyilaukan, dan suara gemuruh terdengar di seluruh ruangan. Perlahan, bayangan gelap yang menyelimuti negeri itu mulai memudar, tergantikan oleh sinar terang yang menyebar ke segala arah.
Ketika cahaya mereda, Arya dan Putri Raja tergeletak lemah di lantai, tapi mereka masih bernapas. Pria misterius itu berdiri di dekat mereka, tersenyum samar. “Kalian telah membuktikan bahwa cinta dan keberanian lebih kuat dari kegelapan. Cahaya Abadi kini menjadi bagian dari kalian.”
Dengan kata-kata terakhir itu, pria misterius itu menghilang, meninggalkan mereka di tengah altar yang kini kosong.
Panglima dan Patih segera membantu Arya dan Putri bangkit. Meski tubuh mereka lemah, ada semangat baru di mata mereka. Cahaya Abadi kini hidup dalam hati mereka, menjadi simbol harapan baru bagi negeri mereka.
Namun, mereka tahu ini bukan akhir. Cahaya Abadi mungkin telah bangkit, tetapi bayangan kelam akan selalu mencari celah untuk kembali. Perjalanan baru telah dimulai.
Bersambung…
